OPEN CALL

Start date: Thursday, 16 April 2026

Deadline: Sunday, 31 May 2026

Response and Announcement: Tuesday, 30 June 2026

Start date: Thursday, 16 April 2026 Deadline: Sunday, 31 May 2026 Response and Announcement: Tuesday, 30 June 2026

EN |ID

ICAD 16

Being: Becoming

8 October- 8 November 2026

Start date: Thursday, 16 April 2026

Deadline: Sunday, 31 May 2026

Response and Announcement: Tuesday, 30 June 2026

Indonesian Contemporary Art and Design (ICAD) 16 mengundang Anda untuk mendaftarkan konsep karya dengan berfokus pada tema “Being: Becoming”

Karya-karya pada Being: Becoming berorientasi pada kerangka waktu dan konteks yang terkait. Pameran ini ingin membuka dialog tentang pergerakan, kemungkinan-kemungkinan yang terbuka, dan posisi-posisi yang bergeser, sekaligus membedah kebebasan, batasan, dan negosiasi yang melekat pada kondisi kehadiran dan proses untuk “menjadi”. Pada saat yang sama, ia juga memikul beban keberlangsungan: dorongan untuk mempertahankan sesuatu yang bisa tercerai oleh waktu. Dalam pengertian ini, ia menantang cara kita memahami waktu—atau setidaknya mengaburkan batas antara pergerakan dan nostalgia.

Dalam proses menjadi, hasrat untuk mempertahankan menguat. Mendokumentasikan, mengarsipkan, merekam, dan menyimpan fragmen pengalaman menjadi kebiasaan yang hampir refleks. Tindakan mencipta seolah menahan waktu sejenak—menunda, meski tak pernah sepenuhnya terhindar dari arus perubahan yang tak terelakkan.

Kondisi yang membentuk proses menjadi, bahkan pada tingkat personal, tidak pernah lepas dari geopolitik. Relasi kolonial dan pascakolonial membentuk pengetahuan yang kita warisi. Perang menggambar ulang batas wilayah, sementara migrasi terus merundingkan identitas. Dalam keseharian, manusia bergerak dalam lingkungan yang ditentukan oleh algoritma, sementara yang ada di luar dari manusia menghadapi ketidakseimbangan ekologis yang kian terasa.

Dalam kondisi seperti ini, “ada” itu sendiri menjadi medan yang diperebutkan.

Sementara pusat-pusat empiris menampilkan proses “menjadi” sebagai sesuatu yang dapat diurai—sering kali melalui struktur dan institusi—lanskap “ada” di Global South tetap cair dan sulit dirumuskan sebagai satu proses tunggal. Komunitas telah lama hidup dalam kondisi hibrid: sejarah yang berlapis, sistem kepercayaan yang saling bertumpang tindih, ekonomi informal, serta bentuk organisasi kolektif yang terus dinegosiasikan.

Di Jakarta, tempat pameran ini berlangsung, identitas tidak pernah benar-benar menetap. “Ada” berarti telah melewati berbagai improvisasi dan adaptasi. Cara kita memahami ruang, nilai, dan estetika pun mengikuti logika tersebut. Solusi desain vernakular, penggunaan ulang yang adaptif, serta praktik seni berbasis komunitas tidak bergantung pada kerangka formal untuk eksis, melainkan bertumpu pada kekuatan jaringan.

Dalam konteks ini, seni dan desain hadir sebagai cara untuk berpikir sekaligus bertahan dalam keterbatasan—melalui tindakan-tindakan kecil berupa penyesuaian dan resistensi. Sekecil apapun intervensi yang dilakukan, material dan objek secara alami menyimpan pengetahuan, memori, dan imajinasi kolektif—yang mencerminkan cara menjadi yang tidak sepenuhnya tunduk pada bentuk baku.

Sepanjang sejarah, praktik kesenian telah menjadi alat untuk mengemukakan, mengontemplasikan, mendukung, atau mengkritisi iklim budaya atau semangat zaman (zeitgeist). Gerakan Dada di tahun 1910 an menggunakan satir untuk menggugat status quo, terutama terhadap Perang Dunia I. Beberapa dekade kemudian, gerakan Actionism di tahun 1960an menentang kekerasan terhadap kemanusiaan melalui seni pertunjukan (performance art) dan body art.

Di era kontemporer, seni dan desain spekulatif muncul dari tantangan masa kini, memberikan ruang untuk kita membayangkan masa depan alternatif. Di konteks lokal, praktik seni Asia Tenggara telah beradaptasi dan bertahan dengan identitas hibrid yang menggabungkan sistem arus utama dengan sistem alternatif. Melalui praktik seni sosial, seniman mengedepankan aksi dan dialog kolektif untuk membentuk resistensi terhadap kondisi global dan lokal yang serba tidak pasti.

Edisi ke-16 ini terbuka untuk partisipan dari beragam latar belakang—seni, desain, musik, sains, ekologi, arsitektur, dan lainnya. Namun, tim kuratorial mencari praktisi yang berkecimpung secara kreatif dalam wacana kompleks terkait spekulasi, waktu, dan iklim dunia saat ini. Inilah waktu dan tempat untuk merenungkan kondisi “ada” kita saat ini dan membayangkan apa yang akan “menjadi” di masa depan—baik secara individu dan kolektif.

Eligibility and Condition:

1. Individual or collective of any nationality.

2. Participants may come from any discipline that focuses on or intersects with fine art, photography, performance art, product design, graphic design, fashion design, music, and architecture.

3. Participants should have spent a minimum of 3 years education and/or working experience in the relevant field.

4. Participants should commit to producing and delivering their artworks to and from the exhibition venue at their own capacity.

5. Selected participants agree to be featured in ICAD 16's catalogue, website, and other promotional materials.

To submit your work, kindly fill in the submission form.